Kita tahu jika
kata Nusantar diperdengarka akan
langsung menunjuk pada suatu bangsa yaitu Indonesia. Kata yang terasa empuk
didengar dan diucapkan. Kata ini digunakan untuk menunjukkan kekayaan negeri.
Misalnya kekayaan budaya. Kepercayaan,
bahasa, kesenian, moral, dan ilmu semuanya banyak berkembang disetiap
penjuru negeri.
Bidang
kesenian misalnya, banyak lagu-lagu,
tarian-tarian dan hasil rupa bangsa ini yang ternyata tidak kalah indah jika
dibandingkan dengan kesenian dari belahan dunia lain. Kekayaan ini berkembang
sesuai dimana dan latar ia berada. Bisa dikatakan kesenian Indonesia berkembang
dari kesenian daerah-daerah. Secara otomatis kesenian ini sangat kental dengan
unsur suku-suku bangsa. Sehingga nuansa estetik kebudayaan Indonesia sangatlah
berwarna. Akan tetapi perbedaan yang terjadi memiliki kesamaan ciri pada setiap
pulaunya atau bisa disebut Dualisme Dwitunggal (Soetarno, 2002).
Misalnya pada segi ornamen karya seni rupa
nusantara yang amatlah beragam dan nuansa keindahan yang kuat pada setiap
pelosok negeri.
Kehadiran
ornamen pada suatu karya memiliki tiga fungsi :
1. Fungsi
Estetis (keindahan)
2.
Fungsi
Simbolis (makna)
3. Fungsi
Konstuktif (membangun)
Yang
sangat membedakan hasil karya nusantara dengan kesenian lain adalah pada fungsi
ornament nomer dua. Dan dari fungsi inilah dualism dwitunggal telihat diseluruh negeri. Umumnya fungsi simbolis yang
berkembang mengandung makna religi dan pesan-pesan moral bagi masyarakat
tersebut. Contohnya pada suku Toraja, awalnya hanya mengenal empat motif yaitu
:
1. Pa’ Barre Allo:
berbentuk lingkaran yang menggambarkan benda
angkasa(matahari), melambangkan kepercayaan kepada Tuhan sang pencipta dan
Penatur segalanya.
2. Pa’ Manuk Londong
: melukiskan ayam jantan,
melambangkan adat-istiadat yang harus dipatuhi.
3. Pa’ Tedong
: terlukiskan pengayaan kepala kerbau,
melambangkan kemakmuran dan kekayaan.
4. Pa’ Sussuk
: oranamen jalur-jalur panjang(horizontal atau vertical), maksudnya kedudukan
manusia adalah sama di mata Tuhan.
![]() |
| Pa’ Barre Allo |
![]() |
| Pa’ Barre Allo |
![]() |
| Pa’ Manuk Londong & Pa’ Tedong |
![]() |
| Pa’ Tedong |
![]() |
| Pa’ Sussuk |
Selain itu motif kala,
gambaran kepala raksasa atau banaspati biasanya pada pintu-pintu candi maupun
motif patung kala yang utuh lengkap dengan badan yang nampak duduk dengan
membawa gadha merupakan symbol penolak
bala. Motif
naga, kura-kura, katak dll debagai symbol
dunia bawah(tanah). Motif ikan melambangkan dunia
air. Motif
burung sebagai roh
yang terbang menuju dunia atas. Motif biawak juga disimbolkan sebagai penjelmaan
roh nenek moyang. Lain halnya dengan motif dua ekor naga yang saling bertolak dan kedua ekornya
saling melilit yang ada pada Gerbang Kemagangan kompleks Keraton
Yogyakarta. Ornament ini dapat dibaca sebagai titimangsa
berdirinya keratin( Dwi Naga Rasa Tunggal= 1682 j = 1756 M) dan sebagai symbol
konsep manunggaling kawula-gusti(bersatunya raja dan rakyat). Sedang sepasang naga yang
beradapan pada tembok depan pintu masuk pada salah satu nbangunan
keratin dimaksudkan agar tamu yang datang
berbelok ke kanan(laki-laki) dank e kiri(perempuan).
![]() |
| dwi naga rasa tunggal (1682 J = 1756 M) |
Indonesia kaya
akan makna, Indonesia kaya akan simbol, dan semoga cipta, rasa, dan karsa warga
Indonesia tidak pernah surut untuk Indonesia lebih maju.
06.03 | 0
komentar | Read More





